Sistem kontrol-Close loop_Open Loop

Close loop:

Setrika Listrik Otomatis

Sebagai masukan ke sistem adalah suhu acuan, yang di set secara tepat oleh thermostat. Outputnya adalah suhu yang dihasilkan sebenarnya dan sinyal feedbacknya adalah suhu yang dianggap tidak sesuai dengan acuan oleh thermostat.

Blok Diagram

lalal

Gambar 1. Block diagram Close Loop

Cara Kerja

Cara kerja dari sistem setrika otomatis ini adalah dengan memanfaatkan thermostat. Saat suhu acuan diatur (input) arus litrik akan dialirkan ke elemen pemanas yang akan memanas sampai panasnya mencapai suhu yang diatur sebagai acuan. Setelah suhu keluaran mencapai suhu acuan, akan ada sinyal umpan balik ke saklar temperatur yang nantinya akan memutuskan aliran listrik ke elemen pemanas agar suhu yang dihasilkan tidak melebihi suhu acuan. Begitu juga sebaliknya, setelah elemen pemanas tidak mendapatkan arus listrik, suhu keluaran akan turun dan lebih rendah dari suhu acuan. Nantinya akan ada sinyal umpan balik ke saklar temperatur untuk menghubnungkan kembali elemen pemanas dengan arus listrik sehingga suhunya akan naik lagi sampai batas suhu acuan.

c

setrika listrik otomatis

 

 

Sistem kontrol irigasi tetes

 sss

vv

 

 

 

 

 

 

Sistem kontrol  berbasis  timer   untuk irigasi tetes ini berdasarkan dari prinsip kerja loop terbuka  dimana  sistem kontrol yang keluarannya tidak berpengaruh pada aksi pengontrolan. Jadi  pada sistem kontrol  lup terbuka, keluaran tidak diukur atau  tidak  terjadi umpan balik  untuk dibandingkan dengan masukan. Atau  nilai keluaran dari irigasi tetes yang digunakan tidak diukur dan tidak pula terjadi umpan balik ke kontrol.

Sistem kontrol ini terdiri dari beberapa komponen yaitu:  timer, relay, saklar, kontaktor, konektor, dan steker yang dirangkai menjadi satu sistem. Komponen-komponen tersebut mempunyai masing-masing fungsi yaitu sistem pewaktu (timer) mengendalikan pompa secara  on/off   dengan mengatur waktu. Timer yang digunakan dalam sistem kendali ini yaitu  timer analog dengan 8 pin yang mempunyai interval setting kontrol waktu antara 0,05  second  sampai 100 jam. Dimana pada sistem kontrol ini terdiri dari 3 timer  dan memiliki fungsi masing-masing. Untuk   timer  1 mengatur waktu menyiram (on pompa), timer 2 mengatur waktu tidak menyiram (off pompa), dan  timer  3 mengatur waktu agar   timer  1 dan 2 melakukan kerja masing-masing. Relay merupakan saklar otomatis yang bekerja setelah mendapatkan informasi dari timer.

Rangkaian sistem  timer  berdasarkan pada prinsip  loop  tertutup, ehingga kerja alat ini secara otomatis dan kontinyu. Mekanisme kerja dari sistem kontrol ini  adalah setelah mengatur setting  timer pada sistem  timer 1 dan 2 saklar di  on-kan, pada keadaan itu sistem menjalankan pompa untuk menyiram selama waktu yang ditentukan setelah timer 1 selesai maka timer 2 mematikan pompa sampai penyiraman berikutnya. Sedangkan untuk  timer 3 akan mengatur atau me-reset sistem timer  untuk penyiraman berikutnya.

Open loop :

Contoh dari sistem loop terbuka adalah operasi mesin cuci. Penggilingan  pakaian, pemberian sabun, dan pengeringan yang bekerja sebagai operasi mesin cuci tidak akan berubah (hanya sesuai dengan yang diinginkan seperti semula) walaupun tingkat kebersihan pakaian (sebagai keluaran sistem) kurang baik akibat adanya faktor-faktor yang kemungkinan tidak diprediksikan sebelumnya..

jj ,,m

sistem kontrol loop terbuka

,,m

 

Lagu-Inspirasiku

  • Melly Goeslaw – Bunda

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

  • Ada Band feat. Gita Gutawa – Yang Terbaik Bagimu

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

  • Bondan Prakoso & Fade 2 Black – Kita Selamanya

Eiyo. . . . it’s not the end, it’s just beginning
Ok detak detik tirai mulai menutup panggung
Tanda skenario… eyo… baru mulai diusung
Lembaran kertas barupun terbuka
Tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga
Kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu
Pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu
Masa jaya putih biru atau abu-abu (hey)
Memori crita cinta aku, dia dan kamu
Saat dia (dia) dia masuki alam pikiran
Ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan
Cinta masa sekolah yang pernah terjadi
That was the moment a part of sweet memory
Kita membumi, melangkah berdua
Kita ciptakan hangat sebuah cerita
Mulai dewasa, cemburu dan bungah
Finally now, its our time to make a history

Bergegaslah kawan tuk sambut masa depan
Tetap berpegang tangan, saling berpelukan
Berikan senyuman tuk sebuah perpisahan
Kenanglah sahabat kita untuk slamanya

Satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori
Satu cerita teringat didalam hati
Karena kau berharga dalam hidupku, teman
Untuk satu pijakan menuju masa depan
Saat duka bersama, tawa bersama
Berpacu dalam prestasi (huh) hal yang biasa
Satu persatu memori terekam
Di dalam api semangat yang tak mudah padam
Ku yakin kau pasti sama dengan diriku
Pernah berharap agar waktu ini tak berlalu
Kawan kau tahu, kawan kau tahu kan?
Beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan

Elektronika Digital-Konsep Dasar Elektronika Digital

MATERI KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

KONSEP DASAR ELEKTRONIKA DIGITAL

Dalam bidang teknologi, bidang bisnis atau bidang yang lain kita selalu berurusan dengan kuantitas-kuantitas. Kuantitas-kuantitas tersebut diukur, dimonitor,dicatat dan untuk kepentingan tertentu dapat dimanipulasi secara aritmatik.

    1. Representasi bilangan

Pada dasarnya ada 2 cara untuk merepresentasikan atau menyatakan nilai bilangan dari suatu kuantitas yaitu secara analog dan digital.

      1. Representasi Analog

Pada representasi analog suatu kuantitas dinyatakan dengan kuantitas yang lain yang berbanding lurus dengan kuantitas yang akan representasikan. Contoh representasi analog adalah speedometer sepeda motor, dalam hal ini kecepatan sepeda motor dinyatakan dengan simpangan jarum speedometer, simpangan jarum speedometer selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada saat kecepatan sepeda motor naik atau turun. Contoh lain adalah kuantitas pada mikrofon audio, tegangan output yang dihasilkan mikrofon sebanding dengan amplitudo gelombang suara yang masuk pada mikrofon, perubahan-perubahan pada tegangan output mikrofon selalu mengikuti perubahan yang terjadi pada input yang masuk pada mikrofon.

Sesuai dengan contoh-contoh diatas, kuantitas analog mempunyai karakteristik dapat berubah secara bertingkat pada suatu rentang harga tertentu. Dalam rentang terentu misalkan 0 samapai 100 Km/h kecepatan sepeda motor bisa dengan kecepatan (10 Km/h, 20 Km/h, 40 Km/h, 60 Km/h, atau 99 Km/h). Dapat disimpulkan Pada representasi analog perubahan kuantitas berlangsung secara kontinyu.

      1. Representasi Digital

Pada representasi digital Kuantitas tidak dinyatakan dengan kuantitas yang sebanding tetapi dinyatakan dengan simbul-simbul yang disebut digit. Contoh pada jam digital yang menunjukkan waktu dalam bentuk digit-digit desimal yang menyatakan Jam, menit dan detik. Perubahan menit atau detik yang terbaca dalam jam digital tidak berubah secara kontinyu tetapi berubah step demi step secara diskrit, berbeda dengan jam tangan analog yang skala penujukan waktunya berubah secara kontinyu. Dapat disimpulkan Pada representasi digital perubahan kuantitas berlangsung secara diskrit step demi step. Karena representasi digital mempunyai sifat diskrit, maka pada saat pembacaan harga suatu kuantitas digital tidak ada penafsiran yang mendua berbeda dengan harga suatu kuantitas analog sering timbul penafsiran yang berbeda.

    1. Sistem Digital

Sistem digital adalah suatu kombinasi peralatan listrik, mekanis, fotolistrik dan lainnya yang disusun untuk melaksanakan fungsi-fungsi tertentu, yang mana kuantitas-kuantitasnya dinyatakan secara digital. Beberapa alat yang menggunakan sistem digital antara lain adalah komputer digital, kalkulator, volt meter digital dan mesin-mesin yang dikontrol secara numerik. Secara garis besar sistem digital memberikan keuntungan-keuntungan berupa kecepatan, kecermatan, kemampuan memori, tidak mudah terpengaruh oleh perubahan-perubahan karakteristik komponen sistem dan pada umumnya mampu digunakan pada rentang pemakaian yang lebih luas.

    1. Sistem Analog

Pada umumnya kuantitas-kuantitas fisik prinsipnya bersifat analog, pada sistem analog kuantitas-kuantitas berubah secara gradual pada suatu rentang kontinyu. Contoh-contoh sistem analog adalah komputer analog, sistem broadcast radio, dan rekaman pita audio. Pada siaran radio AM kita dapat menalakan radio kita pada setiap frekuensi sepanjang rentang band dari 535 K Hz sampai 1605 K Hz secara kontinyu.

    1. Sistem Hybryd

Kebanyakan sistem pengendalian pada proses industri adalah sistem hybryd, sistem ini merupakan gabungan dari kuantitas digital dan kuantitas analog. Pada sistem hybryd terjadi konversi terus menerus antara kuantitas digital dan analog. Dalam kenyataannya hampir semua kuantitas adalah bersifat analog yang kuantitas-kuantitasnya sering diukur dimonitor dan dikontrol. Sistem pengendalian proses industri yang mempunyai kuantitas-kuantitas seperti, temperatur, tekanan, permukaan cairan dan kecepatan aliran diukur dan dikendalikan dengan sistem hybryd yang memanfaatkan keuntungan-keuntungan dari sistem digital.

 

 z

Gambar 1.1. Diagram blok pengendalian sistem hybryd.

Gambar 1.1. menunjukkan diagram blok pengendalian sistem hybryd, input kuantitas analognya diukur, kemudian kuantitas analog diubah menjadi kuantitas digital oleh konverter analog ke digital. Selanjutnya kuantitas digital diproses oleh prosesor sentral. Hasil output dari prosesor sentral diubah kembali menjadi kuantitas analog oleh konverter digital ke analog untuk diumpankan ke rangkaian kontroler guna memberikan pengaruh pada pengaturan harga pada kuantitas analog asal yang telah ditetapkan.

1.5 Konsep Dasar Kuantitas-Kuantitas Biner

Kuantitas biner secara nyata pada rangkaian logika adalah saklar dua arah yang dipakai untuk menghidupkan dan mematikan lampu listrik. Dengan rangkaian ini kita dapat menyatakan setiap bilangan biner seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.2.a. yang menyatakan kuantitas biner 100102 . Contoh lain ditunjukkan pada gambar 1.2.b. lubang-lubamg pada kertas digunakan untuk menyatakan bilangan-bilangan biner, sebuah lubang adalah biner 1 dan tak berlubang biner 0.

 fff

Gambar 1.2. Switch atau saklar dan kertas berlubang yang menyatakan kuantitas biner.

Pada sistem digital elektronik informasi biner dinyatakan oleh sinyal-sinyal listrik yang terdapat pada input dan output dari rangkaian elektronik. Pada sistem ini biner 1 dan 0 dinyatakan dengan tegangan 0 volt atau 5 volt. Semua sinyal input dan output akan mempunyai harga 0 volt atau 5 volt untuk batas toleransi tertentu, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.3.

 xvv

Gambar 1.3. Bentuk sinyal digital

Sensor

BAB I

SENSOR

1. Pendahuluan

  • Sensor (transducer) bertujuan untuk mengubah besaran fisik menjadi sinyal elektris.

  • Besaran yang paling banyak diukur : posisi, force, kecepatan, percepatan, tekanan, level, flow, temperature.

 

2. Spesifikasi Statik

  • Ditentukan oleh manufacturer melalui kalibrasi.

Error :

  • Definisi : perbedaan antara nilai variabel yang sebenarnya dan nilai pengukuran variabel.

  • Seringkali nilai sebenarnya tidak diketahui. Untuk kasus tersebut accuracy akan menunjukkan range/bound kemungkinan dari nilai sebenarnya.

Accuracy :

  • Istilah ini digunakan untuk menentukan error keseluruhan maksimum yang diharapkan dari suatu alat dalam pengukuran.

  • Accuracy biasanya diekspresikan dalam inaccuracy.

  • Beberapa jenis accuracy terhadap :

    1. Variabel yang diukur.

Misal : akurasi dalam pengukuran suhu ialah 2oC, berarti ada ketidak akuratan (uncertainty) sebesar 2oC pada setiap nilai suhu yang dikur.

    1. Prosentase dari pembacaan Full Scale instrumen.

Misal : akurasi sebesar 0.5% FS pada meter dengan 5 V Full Scale, berarti ketidakakuratan pada sebesar 0.025 volt.

    1. Prosentase span (range kemampuan pengukuran instrumen).

Misal : jika sebuah alat mengukur 3% dari span untuk pengukuran tekanan dengan range 20-50 psi, maka akurasinya menjadi sebesar (0.03) (50 – 20) = 0.9 psi.

Sensitivity

  • Definisi : perubahan pada output insrtumen untuk setiap perubahan input terkecil.

  • Sensitivitas yang tinggi sangat diinginkan karena jika perubahan output yang besar terjadi saat dikenai input yang kecil, maka pengukuran akan semakin mudah dilakukan.

  • Misalnya, jika sensitivitas sensor temperatur sebesar 5mV/oC berarti setiap perubahan input 1oC akan muncul output sebesar 5 mV.

Repeatibility

  • Definisi : pengukuran terhadap seberapa baik output yang dihasilkan ketika diberikan input yang sama beberapa kali.

  • Repeatibility vs Accuracy (lihat Gambar 3-3, “ICE”)

  • Persamaan : repeatibility =

Hysteresis

  • Definisi : perbedaan output yang terjadi antara pemberian input menaik dan pemberian input menurun dengan besar nilai input sama. (Lihat Gambar 3-6, “Industrial Control Engineering”)

  • Salah satu indikator repeatability.

Linearity

  • Definisi : hubungan antara output dan input dapat diwujudkan dalam persamaan garis lurus.

  • Linearitas sangat diinginkan karena segala perhitungan dapat dilakukan dengan mudah jika sensor dapat diwujudkan dalam persamaan garis lurus. (Lihat Gambar 3-3, “ICE”).

 

3. Spesifikasi Dinamis

  • Menunjukkan seberapa baik respon sensor terhadap perubahan pada inputnya secara kontinyu dan teratur.

  • Dilakukan dengan memberikan input step dan sinusoidal.

Input Step

  • Jika sensor berorde satu, parameter yang diamati : rise time, time constant, dan dead time. (Lihat Gambar 3-8 sampai 3.10, “ICE”)

    • Rise Time : waktu yang diperlukan agar output mencapai 10 – 90% dari respon penuh saat diberikan input step.

    • Time Constant : waktu yang diperlukan output untuk mencapai 63.2% dari nilai maksimal yang mungkin.

    • Dead time : waktu yang diperlukan output untuk mulai berubah.

  • Jika sensor berorde dua, parameter yang diamati : damping coefficient, resonant frequency, settling time, dan percent overshoot. (Llihat Gambar 3-11, 3-12, “ICE”)

    • Damping coeffecient dan resonant frequency menentukan bentuk dan waktu respon sensor.

    • Settling time adalah waktu yang diperlukan sampai terbentuk output yang diinginkan.

    • Percent Overshoot adalah besarnya lonjakan respons output dibanding kondisi stabil.

 

4. Pertimbangan dalam Desain

Misal : temperature transducer

  1. Identifikasi “natur” pengukuran

Tahap ini meliputi nilai nominal dan range pengukuran temperatur, kondisi fisik lingkungan dimana pengukuran dilakukan, kecepatan pengukuran yang diperlukan, dan lain-lain

  1. Identifikasi sinyal output yang dibutuhkan

Kebanyakan output yang dihasilkan sebesar : arus standar 4 – 20 mA atau tegangan yang besarnya diskalakan untuk mewakili range pengukuran temperatur. Mungkin ada kebutuhan lain sepertai isolasi impedansi output, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus mungkin diperlukan digital encoding pada output.

  1. Memilih sensor yang tepat.

Berdasar langkah pertama, kita pilih sensor yang sesuai dengan spesifikasi : range dan lingkungan. Selanjutnya, harga dan ketersediaan sensor juga harus dipertimbangkan.

  1. Mendesain pengkondisi sinyal yang dibutuhkan.

Dengan pengkondisi sinyal, output dari transducer akan diubah menjadi bentuk sinyal output yang kita perlukan.

 

5. Macam – Macam Sensor

 

5.1. Sensor temperatur

Resistance Temperatur Detector

  • Sensor temperatur berdasar prinsip kenaikan resistansi logam (metal) yang sebanding dengan kenaikan temperatur.

  • Jenis – jenis metal : platinum (repeatable, sensitive, mahal), nikel (kurangrepeatable, kurang sensitive, murah), dan lain-lain.

Sensitivitas

  • Dilihat dari rasio perubahan pada tahanan dan temperatur.

  • Platinum : 0.004/oC, nikel : 0.005/oC.

Waktu respon

Sekitar 0.5 sampai 5 detik atau lebih. Kelambatan respon ini disebabkan kelambatan konduktivitas termal untuk membawa alat ke kondisi thermal equilibrium dengan lingkungannya.

Besarnya time constants berbeda untuk kondisi “free air” (respon lambat) dan kondisi oil bath(respon cepat).

 

Konstruksi

  • Berupa gulungan/belitan sejenis kawat dari logam tertentu.

  • Ada juga yang dilindungi oleh sheat atau protective tube yang sangat penting untuk lingkungan yang “tidak aman”, meski hal itu menaikkanwaktu respon.

Signal conditioning

  • Karena perubahan resistansi terhadap perubahan temperatur sangat kecil (0.4%), RTD biasanya digunakan dalam rangkaian jembatan. (Lihat Gambar 2.7, “PCIT”)

  • Supaya resistansi kabel tidak berubah saat resistansi RTD berubah, perlu ditambahkan compensation line.

Range

Range efektif RTD bergantung pada jenis kawat yang digunakan sebagai elemen aktif. Untuk jenis platinum rangenya –100oC sampai 650oC, sedang untuk jenis nikel rangenya dari –180oC sampai 300oC.

 

5.2 Sensor Posisi

Potentiometric

Sensor posisi paling sederhana dengan melibatkan perpindahan wiper pada potensiometer. Alat ini mengubah gerakan linear atau anguler menjadi perubahan resistansi yang dapat dikonversi secara langsung menjadi sinyal tegangan atau arus. Lihat Gambar 5.1, “PCIT”.

Linear Variable Differential Transformer (LVDT)

Prinsip kerja

  • Berdasar prinsip variable reluctance, dimana inti yang bergerak bertujuan untuk mengubah fluks magnetik diantara 2 gulungan kawat atau lebih. Lihat Gambar 5.8, “PCIT”.

  • Intinya berupa material transparan (permeable) yang dapat bergerak bebas melalui bagian tengah dari form. Coil primer dieksitasi oleh sumber tegangan ac. Fluks yang terbentuk oleh coil primer dihubungkan dengan 2 coil sekunder, menginuksikan tegangan ac pada masing – masing coil.

  • Ketika inti diletakkan di tengah, tegangan yang diinduksikan coil primer besarnya sama. Jika inti bergerak ke salah satu sisi, tegangan ac yang lebih besar akan diinduksikan ke coil yang dekat, sedangkan coil yang lain menerima induksi tegangan ac lebih kecil. Selain itu, juga terjadi perubahan fase tegangan yang berhubungan dengan arah gerakan inti.

  • Jika 2 coil sekuder dihubungkan secara seri, maka 2 tegangan akan dikurangkan, sehingga terbentuk selisih tegangan.

Signal Conditioning

  • Terdiri dari rangkaian pendeteksi fasa dari selisih tegangan coil sekunder.

  • Output berupa tegangan DC yang amplitudonya berhubungan dengan seberapa jauh perpindahan inti dan polaritasnya menunjukkan arah gerakan inti.

 

5.3 Sensor Strain

A. Metal Strain Gauges (SGs)

Prinsip kerja

  • Strain : hasil pemberian gaya atau tekanan pada benda padat/solid.

  • Sensor ini bekerja berdasar perubahan resistansi logam yang disebabkan logam tersebut berubah panjangnya.

Dimana : R = perubahan resistansi l = perubahan panjang

R0 = resistansi mula-mula l0 = panjang mula-mula

Instalasi

  • Cara memasang SG ini dilakukan dengan melekatkan kabel logam atau foil pada elemen yang akan diukur strainnya. Kemudian saat elemen tersebut ditekan dan berubah bentuk, maka SG juga akan berubah bentuk dan menghasilkan perubahan resistansi.

  • Spesifikasi SG diindikasikan oleh Gauge Factor

    • GF =

Dimana : = perubahan kecil pada resistansi gauge karena strain.

Strain = = perubahan kecil pada

Konstruksi

  • Berupa logam tipis yang dilekati elemen kabel atau foil.

  • Umumnya unidirectional, hanya memberi respon di salah satu arah saja.

Signal Conditioning

  • Menggunakan rangkaian jembatan karena perubahan resistansi yang kecil dan adanya efek temperatur

 

 

Sumber :

Process Control Instrumentation Technology”, Curtis D. Johnson

Industrial Control Engineering”, J. Michael Jacob

Clipper dan Clamper

PEMBAHASAN

DIODA PADA RANGKAIAN CLIPPER DAN CLAMPER

 

Diode adalah suatu elemen dasar dari piranti non linear. Diode telah di desain dengan benyak jenis dan digunakan secara luas dalam bentuk satu atau lainnya di hampir setiap cabang teknologi  kelistrikan. Diode merupakan suatu komponen yang memiliki aplikasi yang sangat banyak apalagi dalam suatu rangkaian, diode memiliki banyak sekali fungsi. Salah satunya adalah sebagai clipper dan clamper dalam rangkaian.

  1. Rangkaian Clipper

Salah satu aplikasi prinsipal diode adalah menghasilkan tegangan searah dari sumber tegangan bolak-balik. Rangkaian Cliiper digunakan untuk memotong atau menghilangkan sebagian sinyal masukan yang berada di bawah atau di atas level tertentu. Salah satu contoh rangkaian ini adalah penyearah setengah gelombang. Rangkaian penyearah setengah gelombang ini memotong atau menghilangkan sebagian sinyal masukan di atas atau di bawah level nol. Secara umum rangkaian clipper digolongkan menjadi dua yaitu rangkaian clipper seri dan clipper paralel.

  • Rangkaian Clipper Seri

Rangkaian clipper seri adalah rangkaian clipper yang diodenya berhubungan secara seri dengan beban. Rangkaian dasar dari clipper seri ini mirip dengan rangkaian penyearah setengah gelombang. Namun demikian rangkaian ini dapat dibuat dalam berbagai variasi. Berikut ini adalah petunjuk menganalisa rangkaian clipper seri :

   –     Perhatikan arah dioda, bila arah dioda ke kanan maka bagian positif dari sinyal input akan dilewatkan dan bagian negatif akan dipotong (clipper seri ini bersifat negatif).

  –          Bila arah doida ke kiri, maka bagian negatif dari sinyal input akan dilewatkan dan bagian positif akan di potong (clipper seri ini bersifat positif).

 –          Bila ada perhatikan polaritas baterai.

 –          Gambarlah sinyal output dengan sumbu nol pada level baterai.

 –          Batas pemotongan sinyal sesuai dengan sinyal input.

             Gambar rangkaian clipper seri positif

 indedx

               Gambar rangkaian clipper seri negatif

  • iccndexRangkaian Clipper Paralel

       Rangkaian cliiper paralel adalah rangkaian clipper yang dodenya dipasang paralel dengan beban. Berikut adalah cara menganalisa rangkaian clipper paralel :

–          Perhatikan arah dioda, jika arah dioda ke bawah maka bagian positif dari sinyal input akan dipotong (rangkaian clipper paralel positif). Jika rah doida ke atas, kmaka bagian negatif dari sinyal input akan dipotong (rangkaian clipper paralel negatif).

–          Jika terdapat baterai, perhatikan polaritasnya.

–          Gambarlah sinyal output dengan sumbu nol sesuai dengan input.

–          Batas pemotongan sinyal adalah pada level baterai.

            Gambar rangkaian clipper paralel positif

ss

 

            Gambar rangkaian clipper paralel negatif

u

         2. Rangkaian Clamper

                         Rangkaian clamper digunakan untuk menggeser suatu sinyal ke level DC yang lain. Rangkaian clamper harus mempunyai sebuah kapasitor, dioda, dan resistor. Selain ketiga komponen tersebut bisa juga menambahkan sebuah baterai untuk memperoleh pergeseran tegangan tambahan. Nilai R dan C harus dipilih  sedemikian rupa sehingga konstanta waktu RC cukup besar. Hal ini berguna agar kapasitor tidak membuang tegangan (discharge) pada saat diode mengalami periode non konduksi (off). Dalam analisis kapasitor kita anggap mengisis dan membuang semua dalam 5 kali konstanta waktu. Berikut adalah gambar rangkaian clamper sederhana :

 n

  • Gambar (a) adalah gambar gelombang kotak yang menjadi sinyal input rangkaian clamper.
  • Gambar (b) adalah gambar rangkaian pada saat 0 – T/2 sinyal input merupakan positif sebesar +V, sehingga dioda menghantar (ON). Kapasitor mengisi muatan dengan cepat melalui tahanan dioda yang rendah.
  • Gambar (d) adalah gambar pada saat sinyal output pada R adalah nol.
  • Gambar (e) adalah saat T/2 – T sinyal input berubah ke negatif sehingga dioda tidak menghantar (OFF).
  • Gambar (c) adalah kapasitor membuang muatan sangat lambat, karena RC dibuat cukup lama. Sehingga pengosongan tegangan ini tidak berarti dibanding dengan sinyal output. Sinyal output merupakan penjumlahan tegangan input –V dan tegangan pada kapasitor V, yaitu sebesar -2V. Pada gambar ini terlihat bahwa sinyal output merupakan bentuk gelombang kontak yang level DC nya sudah bergeser ke arah negatif sebesar –V.

Besarnya penggeseran pada rangkaian ini bisa juga divariasi dengan cara menambahkan sebuah baterai secara seri dengan diode. Disamping itu arah penggeseran juga bisa dibuat ke arah positif dengan cara membalik arah diode. Berikut adalah contoh rangkaian clamper negatif dan positif :

y

 

switch Case-Dasar Pemrograman Komputer-Laporan XI

LAPORAN

PRAKTIKUM XI

DASAR PEMPROGRAMAN KOMPUTER

RESISTOR

 

 

Oleh:

Nur Azizah Suwardi      (110534406834)

Sri Rahayu                     (110534406819)

 

 sdss

 

 

 

S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

APRIL 2012


 1.      Dasar Teori

a)       Pernyataan Switch-Case

Bentuk dari switch – case merupakan pernyataan yang dirancangan khusus untuk menangani pengambilan keputusan yang melibatkan sejumlah atau banyak alternatif. Pernyataan switch – case ini memiliki kegunaan sama seperti if – else bertingkat, tetapi penggunaannya untuk memeriksa data yang bertipe karakter atau integer. Bentuk penulisan perintah ini sebagai berikut:

switch (ekspresi integer atau

karakter )

{

case konstanta-1 :

… perintah;

… perintah;

break;

case konstanta-2 :

… perintah;

… perintah;

break;

……

……

default :

… perintah;

… perintah;

}

Setiap cabang akan dijalankan jika syarat nilai konstanta tersebut dipenuhi dan default akan dijalankan jika semua cabang diatasnya tidak terpenuhi. Pernyataan break menunjukan bahwa perintah siap keluar dari switch. Jika pernyataan ini tidak ada, maka program akan diteruskan kecabang – cabang yang lainnya.

b)      Pernyataan Pow

Fungsi aritmatik dengan file header math.h ini digunakan untuk mencari xy

  1. 2.      Penyelesaian

a)      Algoritma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)      Kode Program

 

#include <conio.h>

#include <iostream.h>

#include <stdio.h>

#include <iomanip.h>

#include <math.h>

#include <stdlib.h>

#include <string.h>

 

char lagi, g1 [10][10], g2 [10][10], g3 [10][10], g4 [10], g4new [10];

//int ng4 [5];

int i,n,j,k,r,temp, a[10],b, awal  [5], akhir [5], g1new [5], g2new [5], g3new [5], ng3 [10];

int g1a[10], g1b[10], g1c[10], g3c[100], pangkat[100], ohm[100], jml_g1_pangkt[100], g1d[100];//, g2a[10], g2b[10], g3a[10], g3b[10];

double rata, total;

 

char warna_g4()

{

   if (g4[i]==’A’||g4[i]==’a’)

       cout<<” Emas “;

   else if (g4[i]==’B’||g4[i]==’b’)

       cout<<” Perak “;

   else

       cout<<” Pilihan Hanya A dan B “;

   return 0;

}

 

char perubah_4()

{

   if (g4[i]==’A’||g4[i]==’a’)

       cout<<“5 %”;

   else if (g4[i]==’B’||g4[i]==’b’)

       cout<<“10 %”;

   else

       cout<<” Pilihan Hanya A dan B “;

   return 0;

}

 

char perubah_1()

{

   if (g1a[i]==0)

      cout<<” Hitam   “;

   else if (g1a[i]==1)

       cout<<” Coklat  “;

   else if (g1a[i]==2)

      cout<<” Merah   “;

   else if (g1a[i]==3)

      cout<<” Jingga  “;

   else if (g1a[i]==4)

      cout<<” Kuning  “;

   else if (g1a[i]==5)

      cout<<” Hijau   “;

   else if (g1a[i]==6)

      cout<<” Biru    “;

   else if (g1a[i]==7)

      cout<<” Ungu    “;

   else if (g1a[i]==8)

      cout<<” Abu-abu “;

   else if (g1a[i]==9)

      cout<<” Putih   “;

   else

       cout<<” Pilihan Hanya 0-9 “;

   return 0;

}

 

char perubah_2()

{

   if (g1b[i]==0)

      cout<<” Hitam   “;

   else if (g1b[i]==1)

       cout<<” Coklat  “;

   else if (g1b[i]==2)

      cout<<” Merah   “;

   else if (g1b[i]==3)

      cout<<” Jingga  “;

   else if (g1b[i]==4)

      cout<<” Kuning  “;

   else if (g1b[i]==5)

      cout<<” Hijau   “;

   else if (g1b[i]==6)

      cout<<” Biru    “;

   else if (g1b[i]==7)

      cout<<” Ungu    “;

   else if (g1b[i]==8)

      cout<<” Abu-abu “;

   else if (g1b[i]==9)

      cout<<” Putih   “;

   else

       cout<<” Pilihan Hanya 0-9 “;

   return 0;

}

 

char perubah_3()

{

   if (g1c[i]==0)

      cout<<” Hitam   “;

   else if (g1c[i]==1)

       cout<<” Coklat  “;

   else if (g1c[i]==2)

      cout<<” Merah   “;

   else if (g1c[i]==3)

      cout<<” Jingga  “;

   else if (g1c[i]==4)

      cout<<” Kuning  “;

   else if (g1c[i]==5)

      cout<<” Hijau   “;

   else if (g1c[i]==6)

      cout<<” Biru    “;

   else if (g1c[i]==7)

      cout<<” Ungu    “;

   else if (g1c[i]==8)

      cout<<” Abu-abu “;

   else if (g1c[i]==9)

      cout<<” Putih   “;

   else

       cout<<” Pilihan Hanya 0-9 “;

   return 0;

}

 

main ()

{

clrscr();

cout<<“Kode Warna resistor    : “<<endl;

cout<<“1. Coklat “<<endl;

cout<<“2. Merah  “<<endl;

cout<<“3. Jingga “<<endl;

cout<<“4. Kuning “<<endl;

cout<<“5. Hijau  “<<endl;

cout<<“6. Biru   “<<endl;

cout<<“7. Ungu   “<<endl;

cout<<“8. Abu-abu”<<endl;

cout<<“9. Putih  “<<endl<<endl;

cout<<“Kode Toleransi resistor:”<<endl;

cout<<“A. Perak  “<<endl;

cout<<“B. Emas   “<<endl<<endl<<endl;

 

cout<<“Masukan jumlah resistor  : “;cin>>n;

for(i=1;i<=n;i++)

{

 

       cout<<“Resistor ke – “<<i<<endl;

   l1:cout<<“Kode warna gelang 1 : “;cin>>g1[i];

                       if ((g1[i][10] >9)&&(g1[i][10] <0))

                                       {

                       cout<<“Maaf!!! nilai dalam Skala 0-9 \n”;

                                                       cout<<“silahkan ulangi lagi \n”;

                                                       goto l1;

                                       }

 

   l2:cout<<“Kode warna gelang 2 : “; cin>>g2 [i];

                       if ((g2[i][10] >9)&&(g2[i][10] <0))

                                       {

                                                       cout<<“Maaf!!! nilai dalam Skala 0-9 \n”;

                                                       cout<<“silahkan ulangi lagi \n”;

                                                       goto l2;

                                       }

 

   l3:cout<<“Kode warna gelang 3 : “;cin>>g3 [i];

                       if ((g3[i][10] >9)&&(g3[i][10] <0))

                                       {

                                                       cout<<“Maaf!!! nilai dalam Skala 0-9 \n”;

                                                       cout<<“silahkan ulangi lagi \n”;

                                                       goto l3;                                                                                                         

                                       }

 

   l4:cout<<“Kode warna gelang 4 : “;cin>>g4 [i];

                       if (g4[i]!= ‘A’ && g4[i]!=’a’ && g4[i]!=’B’ && g4[i]!=’b’)

                                       {

                                                       cout<<“Maaf!!! Pilihan Hanya A dan B\n”;

                                                       cout<<“silahkan ulangi lagi \n”;

                                                       goto l4;

                                       }

 

 

      g1a[i]=atoi(g1[i]);

      g1b[i]=atoi(g2[i]);

      g1c[i]=atoi(g3[i]);

       g3c[i]=(pow(10,g1c[i]));

      g1d[i]=(pow(10,(g1c[i]+1)));

 

      jml_g1_pangkt[i]=(g1a[i]*g1d[i]);

       pangkat[i]=(g1b[i]*g3c[i]);

      ohm[i]=(jml_g1_pangkt[i]+pangkat[i]);

}

cout<<“============================================================================”<<endl;

cout<<”                       PROGRAM HITUNG NILAI RESISTOR                              “<<endl;

cout<<“============================================================================”<<endl;

cout<<“—————————————————————————-“<<endl;

cout<<“No.  Gelang 1      Gelang 2      Gelang 3      Gelang 4   Nilai Ohm  Toleransi”<<endl;

cout<<“—————————————————————————-“<<endl;

 

for (j=n;j>=1;j–)

       {

                       awal[j]=ohm[j];

       }

for (j=n;j>=1;j–)

       {

       for (k=j;k>=1;k–)

   {

       if (ohm[j]<ohm[k])

                                       {

                                       temp=ohm[j];

                                       ohm[j]=ohm[k];

                                       ohm[k]=temp;

                       }

   }

}

for (j=n;j>=1;j–)

       {

                       for (k=n;k>=1;k–)

                                       {

                                       if (awal[j]==ohm[k])

                                                       {

                                                                       g1new[k]=g1a[j];

                  g2new[k]=g1b[j];

                  g3new[k]=g1c[j];

                  g4new[k]=g4 [j];

               }

                                       }

       }

 

for (i=0; i<n; i++)

{

       total=0;

       for (i=0; i<n; i++)

       total=total+ohm[i];

}

 

rata=total/n;

 

for (i=1;i<=n;i++)

       {

                       cout<<setiosflags(ios::left)<<setw(4)<<i;

       cout<<setprecision(2)<<setw(6)<<perubah_1();

       cout<<setprecision(2)<<setw(6)<<perubah_2();

       cout<<setprecision(2)<<setw(6)<<perubah_3();

       cout<<setprecision(2)<<setw(7)<<warna_g4();

       cout<<setprecision(2)<<setw(6)<<ohm[i];

       cout<<setprecision(2)<<setw(7)<<perubah_4()<<endl;

       }

 

cout<<endl;

getche();

}

 

c)      Tampilan